“selamat menempuh hidup dan status baru”

Lama ia sudah tidak akrab lagi dibenak ini. Hanya ada beberapa sisa ingatan saja tentang dirinya. Namun entah ada angin apa tiba-tiba saja melalui handphone Nokia 3310 milikku ia berkirim pesan singkat dan sedikit mengejutkan dahiku. Dibilang singkat sebab pesannya hanya beberapa karakter namun sangat bisa dipahami. Tapi SMSnya mendorong keingintahuanku lebih dalam. Dan jawabanya lebih singkat dari pesan pertama, Aku Tgl 19 Juni nikah, lalu, Ya, katanya membalas pesanku yang sedikit lebih panjang dari jawabannya, sama Fathir Abdurrohman?

Kemudian aku mencoba memperlebar pembicaraan dengan kembali berkirim SMS, sambil menjelaskan bahwa aku belum siap membayar hutang yang sudah kujanjikan, namun tak ada jawabnya hingga HP jadul mengeluarkan bunyi, tret-tret, tret… Tanda batrai lemah.

Naylam. Ternyata kau bersungguh-sungguh bercita-cita sehidup-semati denganya. Dia yang sungguh terlalu menyekapmu dengan sihir cinta dan entahnya. Dia yang tak pernah kukenal dan rasanya seumur hidupku tak mau mengenalnya karena kebangsatannya yang melarangku memanggilmu Ning. Seolah hanya dia yang berhak memanggilnya Ning.

Tak sadarkah ia belum menjadi apapun utuh milikmu, Fathir? Tak sadarkah kau telah mempersempit dunianya untuk memperbanyak jaringan shilaturrahim, memperbanyak saudara, pengetahuan, terlebih ‘cinta’? Aku pikir kau tak begitu mengenalnya, kekasihmu.

Dan terakhir dia manyamakan aku dengan monyet lanang Plangon. Dan bisa dbilang dia jauh lebih tak tampan daripada aku, selain aku temen-temenku juga bilang begitu. Namun lepas dari itu semua aku salut dengan kekuatan cinta yang mendekam didadamu dan dia.

Hingga kini keseriusannya mulai nampak pekat terlihat, dan 19 Juni ini adalah bukti kedahsyatan cinta menyeruak mantab, maka halal sempurnalahlah segala apapun yang dulunya dipaksa halal demi untuk pembuktian cintamu dan cintanya. Dan satu hal lagi, kau dan dia telah dinyatakan lulus melewati ujian dan cobaan yang selama ini menerpa perjalanan panjang cinta kalian yang syarat akan kesuka-dukaan, dan sanggup membunuh segala macam godaan: aku misalnya.

Dulu aku mulai mencintaimu setelah entah berapa lama suaramu menerebos ketelingku lalu menelisik dikegelapannya berjalanan-jalan keotakku lalu betah disana, terakhir mendarat dihatiku yang paling mendasar dan slebbbb!!! Kau menusuk kantong kelelakianku yang pekat berlumut kerinduan disana. Entah kerinduan apa. Yang jelas kantong itu adalah mata air yang kadang merubah dirinya menjadi airmata. Sebab tertusuk itulah kemudian mata air menumpahkan segala apa saja yang ada didalamnya.

Namun sekali lagi sifat mata air adalah kejernihan dan suci mensucikan, meski kadang keruh tapi tetap adalah kefitrahan.

Lambat laun mata air itu memenuhi ruangan elastis yang kadang menyempit hingga sempit sekali dan pada waktu yang lain meluas tanpa batas. Ruangan itu penuh. Dan kau disana. Sesekali menendang-nendang dinding yang tak berwujud. Dan kaupun seperti benih mawar yang kian membesar disana. Meski mengindahkan taman hatiku, tak sesekali durimu menusuk-nusuk. Dan tak bisa dibantahkan lagi aku mengerang sekerasnya terlebih pada saat kau hanya menjadi pendengar setia siaran rinduku, padamu, perempuan.

Entah berapa lama waktu yang menyita kehidupanku hanya untuk menaruh rindu padanya. Rindu kosong. Anyeb. Peluh. Dan meskipun kau tidak mencintaiku. Aku tau. Kau memiliki kegelisahan yang mendalam atas segala keadaan yang mengalir begitu saja. Seperti air yang melaut: Berawal dari tumpahan bekas mandi, cuci baju-piring, dll, lalu mengalir diselokan, dari suci menjadi mustakmal, lalu najis, kemudian perlahan ia merambat dialiran sungai bergabung dengan kawan yang lain yang asalnya sama . Suci. Lalu ia pun kembali suci dan mensucikan.

Begitulah keadaan kita. Mengalir saja tanpa rencana. Aku masih ingat ketika kau sepertinya lebih mempercayaiku lebih dari kekasih sehidup-sematimu, kau menumpahkan setitik persoalan hidupmu padaku. Curhatanmu tentang skripsi, pencarian bahan, dan sesekali curhat persoalamu denganya.

Dan terakhir pada saat yang jauh aku coba menggenggam hatimu dengan beberapa pertanyaan. Terlebih tentang aku. Dan satu jawaban yang tak bisa dibatahkan darimu menatapku sejauh dan selamanya adalah KAGUM. Dengan baberapa alasan yang kau miliki. Dan meski aku tak sampaikan langsung. Aku menyatakan KAGUM juga padamu, sebab kau terbilang perempuan yang jujur, walau menyakitkan, meski kau terbilang perempuan ‘lemah’ tapi kau kuat dan tegar.

Sudalah, saat ini kau sudah tergantikan mengisi kamar sempit didadaku. Dia perempuan idamanku. Meski bukan yang tercantik tapi dia adalah yang terbaik dari yang pernah kutemui sepanjang pencarian cintaku di tujuh langit. Dan dia adalah yang terakhir. Sebagaimana kau yang tengah nyatakan pada dunia: Aku tgl 19 Juni, Nikah.

 

_________________

Malang, 14 Juni 2011

Ilenmakalangan

“Yok Fikir Yok Dzikir”

Mungkin saja itu kalimat motivasi bagi Pak Sopir Bus yang aku tumpangi tadi sebelum aku memutuskan mencari tempat makan yang tidak jauh dari Warnet yang hendak aku sambangi siang ini. Atau saja mungkin itu adalah cara Pak Sopir mendakwakan Prinsip hidupnya kepada siapapun yang membacanya terlebih penumpang penikmat perjalanan Busnya. Tak tau pasti alasanya. Tapi yang terpenting, kalimat singkat padat makna itu mengganggu fikiranku semenjak kalimat itu kubaca perlahan dalam hati.

Dipertelon atau bahasa Indonesianya pertigaan, aku turun dan sebentar melirik di Warnet yang akan kusambangi. Buka, kataku membatin. Aku berlalu darinya, mataku kesana kemari mencari Warung Makan, langkaku ikut saja apa yang dikehendaki mata, kearah mana tak tau. Bu, ada nasi rawon? Pada sebuah Warung Nasi yang merangkap Toko Sembako dan jajahan yang lain. Boten enten, Mas. Aku menghela nafas. Oh, nggeh Bu, maturnuwun. Lagi-lagi gerak kaki manut saja apa yang diinginkan mata. Diseberang jalan sana, Soto “Daging Lontong dan Nasi,”. Uluk salam, dan terjawab oleh Ibu setengah baya sendirian memakai jilbab. Lontong, Bu. Kataku yang sebenarnya sudah putus asa mencari makanan favorit baruku, Nasi Rawon.

Setelah lepas menikmati Soto Daging Lontong, aku hanya memiliki satu tujuan, Warnet. Mulai berselancar di Dunia Maya. Yang paling pertama-tama Facebok yang kubuka, lalu Email. Di Facebook ada lima sahabatku yang Online, dan Yaki membuka percakapan, Cuk, katanya. Pembukaan yang cukup simpel, khas Jatim. Dan sahabatku Yaki mulai mempromosikan apa saja yang dia miliki di Alam Maya. Aku ikuti saja. Dan kami mulai dialog.

Yaki. Sahabat karibku yang paling karib semenjak dulu Nyantri di Kota C. Suka maupun duka, terlebih hidup susah sudah menjadi makanan sehari-hari. Meski dari Daerah yang berbeda namun kita memiliki misi hidup yang sama, Bebaskan Diri dari Kebodohan dan Kemiskinan. Tapi beginilah hidup, terutama hidup kami, selalu saja betah, meski tak mau, tetap bodoh dan miskin. Nasibnya dan aku sama. Aku yang tak betah dengan keadaan ini, lari kesana kemari, pada akhirnya, meskipun belum selesai Pengembaraanku, aku singgah di Kota M. salah satu Kota besar di Jatim.

Tak lama aku dan Yaki berdialog. Saling melempar argument. Tetap pada ego masing-masing. Tapi menurutku tak perlu berlama-lama saling mempertahankan diri dari pendapat masing-masing. Karna orang kita sama-sama punya yakin dan prinsip berbeda kok. Ngapain saling ngotot dengan pendapat masing-masing? Kita saling dukung sajalah. Itu lebih baik bukan?!

Aku jadi ingat sama kalimat yang didakwakan Pak Sopir tadi yang dipampang disamping pintu keluar depan Bus, samping kanan Pak Supir:

“Yok Fikir Yok Dzikir”

Ya Berfikir Ya Berdzikir

Sebab berfikir atau mengeja masa depan bukan hanya butuh nalar yang cerdas. Atau keyakinan yang mantab. Atau keinginan yang kuat. Tapi juga harus dibarengi dengan kesadaran diri juga, coba renungkan kalimat bijak ini, “Orang yang mengenal (lebih dalam dan dalam lagi) dirinya, maka ia akan mengenal Tuhanya,” Mengenal bahwa manusia hanya diberikan kesempatan untuk mengeja masa depan, boleh pula ber-ego dan berkeinginan tapi tetap saja Tuhan hanya memberikan apapun yang dibutuhkan hambaNya. Meski hambaNya kadang tak tahu apa yang dibutuhkan.

Meski kita sama-sama punya kepala, tapi ruangan dan daya nalar kita berbeda. Jadi kerjakanlah apappun yang diyakini kebenarannya.

Sudalah. Aku mau beres-beres sik, Paket Internetanku yang hanya 7.500 ribu setengah jam lagi habis. “Assalamu’alaikum Dunia Maya,”

 

________________

Malang, 15 Juni 2011

Ilenmakalangan

Sore itu hatiku tak sabaran menunggu semuanya: maghrib, hidangan, dan kekasih. Redup redam disudut warung, hawa dingin yang dititipkan gerimis senja ini perlahan membasahi penantianku akan jawaban cinta yang sudah kusampaikan kemarin sore. Aku masih ingat menatapmu dari kejahuan gelap, membaca secarik keretas yang kutitipkan sahabatmu yang bohay itu. Getir mata ini, melihat kau menertawai kejujuran hatiku yang kuwakilkan lewat lylics lagu Jangan Tutup Dirimu dari Stinky:

Dari hati yang paling dalam/
Terucap kata cinta untukmu/
Yang telah lama ingin ku katakan/
Sungguh takkan ku ingkari//

Hari demi hari tlah terlewati/
Tapi dirimu slalu di hariku/
Kau pujaanku kau bidadariku/
Jangan tutup dirimu sebelum aku datang//

Biarlah ku mencoba menjadi milikku/
Jangan tutup dirimu/
Salahkah diri ini yang mencintaimu/
Jangan tutup dirimu/
Tak banyak yang dapat kulakukan/
Untuk membuktikan cintaku/
Tapi kata hati yang tulus dan suci/
Sungguh aku cinta kamu///

Anjrit. Dianggap apa isi hatiku. Seharusnya tersimpan dan rahasia, malah rame-rame kau membacanya. Batinku semakin berkecamuk, menebak-nebak, apakah itu tawa kebahagiaan atau pelecehan? Terserahlah. Yang jelas saat ini sedikit lega batinku sebab rasaku sudah kusampaikan lewat lagu. Ya. Aku sadar. Mungkin saja kau tertawa sebab yang kutulis disana bukan hasil imajiku melainkan copy paste dari buku lagu yang kutemukan dikamar tempat berteduh diperaduan lusuh, dan entah milik siapa. Pun sadar, aku bukanlah pujangga yang pandai merangkai kata. Entah juga, mungkin saja aku terlalu mabuk karenamu, hingga membuat otaku buntu untuk sekedar berimajenasi merayu.

Masih diwaktu yang sama, seolah penantian sesaatku serasa panjang dan mendebarkan. Maghrib, sebentar lagi kumandang adzan mengisyaratkannya, sebagai tanda bahwa saatnya berbuka puasa bagi yang menjalankannya. Ya. Saat ini aku sedang puasa Sunnah Kamis. Batin ini seperti diremas-remas melebihi perihnya perutku menjelang berbuka. Nel, dah mau maghrib, balik yuk? Nggak enak sama Abah, Ugit rekan senasibku memecah pandanganku yang meruncing ke arah Rinisyah. Bentaran Git, ada yang mau aku omongin sama dia, kataku sambil mata lelahku mengisyaratkan kehadiran Rinisyah. Ugit memahami, siap Boss!

Sepertinya langit menumpah—tambahkan dukaku senja ini. Gerimis makin merdu mengiringi kehadiran bidadariku saat ini, Rinisyah. Iya, ada apa? Katanya datar. Aku pandangi wajahnya yang sayu dan cemas. Memelan suaraku menyambut tanyanya, Cuma nanya jawab surat yang kukasih kemarin. “Aduh, gimana ya. Aku gak bisa jawab sekarang,” Tapi aku pengennya sekarang, Syah. Taukah, aku tersiksa karenamu? Dua hari ini aku nunggu.

Gini deh, Nel, katanya tanpa hormat memanggil namaku. Betapa tidak usianya selislih lebih tua daripada aku, dengan ringan menyapaku, Nel. Tapi tak apalah, aku mencintainya. Setelah batuk-batuk kecil ia melanjutkan. Kitakah belum terlalu kenal jauh. Lagian kalo kita pacaran malah semakin merasa berjarak, apapun jadi serba canggung, terbatas gituloh. Jadi bukanya kita semakin mengenal malah berjarak. Nel… Kita temenan aja ya? Supaya kita bisa enak ketemu. Tanpa canggung melempar senyum dan canda. Deg! Aku diam lama. Dan ia pun kurasa merasakan apa yang kualami, ia pun mengunci mulut. Bibirnya terkatup lembut, merah tanpa gincu.

Bukan aku tak sepakat dengan apa yang ia jelaskan. Tapi hati ini retak beribu. Isyah, ya, aku faham maksudmu. Ia memenggal pengutaraanku, maaf ya, Aa. Sekali lagi maaf… Isyah, aku mencintaimu, kataku. Allahu Akabar, Allahu Akbar! Adzan. Udah ya Aa, udah adzan, ia sembari berlalu.

Dia. Kali ini lebih kelihatan cantik dari biasanya. Atas kedatangannya, se-isi warung batuk-batuk kecil melihat kita: Aku dan Rinisyah. Temanku Ugit, faham kalo ia pelanggan sepecialku. Tanpa di kode, Ugit menyibukan diri dengan pelanggan warung kecil Kyai yang kami urus. Dan yang menarik pelanggannya 99% adalah Santri Putri. Dan satu dari beberapa kebiasaan pelanggan boleh ngelayanin kebutuhannya sendiri, terlebih masak Mie Instan.

Aa, udah Isyah aja yang masak. Nggak apa-apa kok, kataku. Sesekali tanpa rencana tanganku bersentukan dengan tangannya. Canggung tapi senang. Aa besok pulang? Ceileh, dia lagi yang mengawali obrolan. Malu aku. Jawabanku singkat, nggak. Lho, Aa nggak kangen keluarga apa? Ibu? Ya kangenlah, Syah. Maksudku aku pulangnya nggak langsung besok, tapi nanti selesai sholat ‘Id, disini. Tanpa kata, ia melempar senyum yang sangat manis sepanjang senyum yang terlempar dari bibirnya semenjak itu.

Oia, Isyah. Maaf ya, kataku mencoba mengungkap rahasia lalu. Maaf apa, Aa? Isyah penasaran. Photomu. Ih, Aa, jangan yang itu. Syah marah lho. Udah mintanya gak lewat Isyah langsung. Maaf ya, sayang… Hmmmmmm, geramnya isyarat setengah rela.

 

__________________

Malang, 22 Juni 2011

Ilenmakalangan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.