Iduh Getih
12 Februari 2012
Tenggorokanku garing, Mak.
Sampun kaleh taun niki aku mboten dahar daging.
Mak, nggeh Njenengan podo: dahar iduh campur getih.
Duh… Gusti Allah—aku iki sugih opo mlearat? Aku takon marang AwakMu,
Gusti Allah.
Ususku mlelet, Mak!
Ndelok wong sugih tapi mlarat.
Tumbas Wisky—nggelar pesta ning Wulan Haji
: duh, nggilani…
Mak, aku pengen dahar daging.
Ora Wedus, Ayam mboten nopo.
Mak, mboten enten kuabeh:
Aku gelem mangan daging Asu.
Jakarta, 07 November 2011
______________________
Ilenmakalangan
Ranting Pecah
12 Februari 2012
Aku…
Ranting kering, aku pecah.
Bukan sebab hujan sore tadi. Pun bukan sebab terseok terpaan angin.
Aku hanya sedang sakit hati pada mereka!
: menganggap aku sampah pantas terbuang…
Janji Kembali
4 Juli 2011
Setahun mengalun deru kisah terukir lekat diingatanku
Izinkan aku memincuknya menjadi sedikit saja
Merekap memadat dalam selembar godong gedang
Dan kusimpan disini—dadaku
Bukan pilih-pilih
Hanya saja aku mencoba merangkum dikemahaluasan sajak dan puisi
Tak perlu khawatir masa-laluku—kelak aku akan menjelaskan lebih panjang tentangmu dicatatan harian—sebab kau sudah mendraf, sekali lagi, disini—dadaku
Terpenting hari ini aku harus pulang
Bapak—Emak dan keluargaku sudah menunggu disana:
Rumahku, di amben dulu aku terlahir dan dilahirkan bersimbah darah Ibu, pahlawanku
Ku ulang sekali lagi, kelak aku akan menjelaskanmu—menceritakan lebih lugas dan rasa bangga diujung sana—tempat kerumunan orang: kampong selembar godong gedang
Jujur. Sebenarnya aku ingin sedikit lebih lama mendekapmu—barang satu, dua atau tiga hari lagi
Sebab ada kekasihku disana, di kaki bukit gunung lawu
Kekasihku bersabarlah, mungkin tidak hari ini aku menusukmu dengan rindu dendam ini
Sebab di setasiun sana ada yang sedang menungguku—seorang bapak dan sekarung apel keikhlasan
Mungkin tak cukup seribu ucapan terima kasih kusampaikan, terlalu agung ketulusannya
Kepada anak perawannya yang kukagumi kuungkap kebodohanku:
Maaf, atas niat kebaikannya aku tak bisa bijak
Lalu sahabat yang merangkap sebagai sedulur tuaku
: kebaik-tulusannya membuatku berat untuk melupakan
Terima kasih kangmas
Semoga aku bisa membalas segalanya lebih
Mbakyu juga terima kasih
Njenengan bukan hanya sebagai Mbak kekasihku
Melainkan kau jua pendukung utamaku
Meski bukan padamu—pada anakmu aku saja
Konco-koncoku
Maaf ya salah khilaf yang pernah kutebar
Kesuwun untuk semuanya
Malang aku berjanji
Nanti aku kembali mendekapmu dan menikahinya
Beberapa jam lagi aku harus sampai ke setasiun: meninggalkanmu
Lalu memeluk sungkem marang sunan gunung jati dan pangeran wiralodra
________________________
Malang, 30 Juni 2011
Ilenmakalangan
Ibu Yang Kesepian
26 Juni 2011
Terkejutkah Ibu?
Meski ia tidak mengatakan apapun
Aku merasakannya
: Secercah kebahagiaan nampak dari wajahmu
Ia bertanya
Aku menjawab datar
“Monggo pinara,”
Aku meng-iya-kan tanpa kata
Ibu itu sibuk dengan pesanan perutku
Aku menelajahi meja-meja kosong
Kotak amal yang hanya beberapa lembar uang
Sambal saos lalu kecap tegak menunggu sahabatnya yang tak ada kepastian
Sabarlah kawan aku segera datang, kata daging-daging di kuali.
Lepas itu aku minggat
Dengan perut busung dan kesedihan Si Ibu
17 Juni 2011
Ilenmakalangan
Ingin ‘Mandi Basah’
26 Juni 2011
13 tahun yang silam, menginjak baligh, aku ihtilam
Betapa kenikmatan itu kurindukan, saat ini;
diujung usiaku.
Syahwat
Memekat memikat
: tersumbat perih menyayat.
Lagi, inginku tanyakan lagi, kapan Tuhan merestui
: agar lepas gelisah
Inginku
Mandi basah
Malang, 06 Mei 2011
Ilenmakalangan